Warna Background

Silahkan Pilih Background Warna Sesuai Keinginan Kamu :

KUMPULAN PUISI

WARNA MASA DEPAN ANAK"

ANAK ADALAH SEBUAH KAIN SUTRA YANG BERHARGA
YANG HARUS DIBILAS DENGAN SABAR BILA TERNODA
YANG HARUS DIHALUSKAN DENGAN PENUH PERASAAN BILA KUSUT
YANG HARUS DISULAM DENGAN TEKUN BILA TERKOYAK
ANAK ADALAH SEBUAH JIWA YANG SEDANG BERKEMBANG

ANAK ADALAH SEBUAH TAMAN BUNGA YANG INDAH
YANG HARUS DISIRAM DENGAN RAJIN BILA LAYU
YANG HARUS DIBERI PUPUK TIADA HENTI BILA TIDAK TUMBUH SUBUR
YANG HARUS DISIANGI DENGAN TEKUN BILA TUMBUH TIDAK TERATUR
ANAK ADALAH RAGA YANG SEDANG MEKAR

ANAK ADALAH SEBUAH INVESTASI TERBESAR BAGI MASA DEPAN
YANG HARUS DIJAGA DENGAN KETAT BILA TERJADI INFLASI MORAL
YANG HARUS DISTABILKAN DENGAN TEGUH BILA TERJADI FLUKTUASI MENTAL
ANAK ADALAH SEBUAH NYAWA YANG SEDANG TUMBUH

ANAK ADALAH SEBUAH SIMFONI YANG MENAKJUBKAN
YANG HARUS DIDENDANGKAN DENGAN SYAHDU SAAT SEDANG KELABU
YANG HARUS DIMAINKAN DENGAN INDAH SAAT SEDANG LARA
YANG HARUS DIKUMANDANGKAN DENGAN SEMANGAT SAAT SEDANG MEREDUP
ANAK ADALAH SEBUAH SENI YANG SEDANG HIDUP

ANAK ADALAH AWAL SEBUAH KEHIDUPAN
AWAL KEHIDUPAN ADALAH BENTUK MASA DEPAN ANAK
JANGAN ABAIKAN RAGA YANG SEDANG TUMBUH
JANGAN KASARI JIWA YANG SEDANG BERKEMBANG
JAUHKAN KEBENCIAN DARI SENI YANG SEDANG HIDUP
JAUHKAN KEKERASAN DARI NYAWA YANG SEDANG MEKAR

ANAK ADALAH SEBUAH AWAL KEHIDUPAN
AWAL KEHIDUPAN ADALAH WARNA MASA DEPAN ANAK
JANGAN SIA-SIAKAN AWAL INI
JANGAN SAMPAI SESAL ITU TERJADI KELAK
SAAT WARNA SURAM TERLANJUR SELIMUTI MASA DEPAN ANAK

*****

"ANAK ADALAH NYAWA TAK BERDAYA"

MESKIPUN ANAK ADALAH SEBUAH DARAH DAGING MANUSIA
BUKAN BERARTI MANUSIA BOLEH MELEPAS MAKIAN
BUKAN BERARTI MANUSIA BOLEH MENGAYUN TAMPARAN
ANAK ADALAH NYAWA TAK BERDAYA
HANYA BISA MENANGIS BILA BENTURAN KASAR MENERPANYA

MESKIPUN ANAK ADALAH ADALAH HAK SEORANG MANUSIA
BUKAN BERARTI MANUSIA BOLEH MEMPERDAGANGKAN SEMAUNYA
BUKAN BERARTI MANUSIA BOLEH MEMPERKERJAKAN SEENAKNYA
ANAK ADALAH NYAWA TAK BERDAYA
HANYA BISA MENGHIBA BILA LETIH MENYENTUH TUBUHNYA

ANAK ADALAH NYAWA TAK BERDAYA
TAK BERDAYA MELAWAN KEKERASAN BIADAB MANUSIA
TAK BERDAYA MENOLAK KEPENTINGAN PICIK MANUSIA
TAK BERDAYA LARI DARI AMUKAN AMARAH MANUSIA
TAK BERDAYA MENUTUP TELINGA DARI SUARA JAHAT MANUSIA
TAK BERDAYA MENUTUP MATA DARI PERILAKU SETAN MANUSIA

ANAK ADALAH NYAWA TAK BERDAYA
HANYA BISA MERENGEK SAAT DAHAGA TERTIMBUN DI LEHERNYA
HANYA BISA MENGHELA NAPAS BILA KALIMAT KASAR MERASUK JIWANYA
HANYA BISA TERDIAM BILA SAAT AMARAH MANUSIA MENERJANG EGONYA
HANYA BISA MENGERANG BILA PUKULAN MENGHUNJAM TULANGNYA
HANYA BISA TERISAK BILA KEKERASAN TERUS MENGITARINYA
HANYA BISA MENITIKKAN AIR MATA BILA DERITA TERUS MENDERANYA

MANUSIA YANG TERUS MENDERANYA ADALAH BUKAN MANUSIA
APAPUN ALASANNYA, HENTIKAN SEGERA SEGALA KEKERASAN ITU
KARENA ANAK BUKAN SEKEDAR DARAH DAGING MANUSIA
KARENA ANAK BUKAN SEKEDAR HAK SEORANG MANUSIA
KARENA ANAK ADALAH TITIPAN YANG KUASA
KARENA ANAK ADALAH NYAWA TAK BERDAYA

*****

DUNIA ANAK, BUKAN DUNIA DEWASA

DUNIA ANAK, BUKAN DUNIA DEWASA
BUKAN DUNIA YANG PENUH TIPU MUSLIHAT
BUKAN DUNIA YANG PENUH AMARAH
BUKAN DUNIA YANG PENUH PERILAKU SETAN

DUNIA ANAK, BUKAN DUNIA DEWASA
DUNIA YANG PENUH KEPOLOSAN
DUNIA YANG PENUH FANTASI
DUNIA YANG PENUH KASIH SAYANG

DUNIA ANAK, BUKAN DUNIA DEWASA
JANGAN RASUKI DUNIA ANAK DENGAN DUNIA DEWASA
JANGAN PAKSAKAN DUNIA ANAK DENGAN EGO DEWASA
JANGAN LUNTURKAN DUNIA ANAK DENGAN KEKERASAN
JANGAN HITAMKAN DUNIA ANAK DENGAN KEBOHONGAN

DUNIA ANAK ADALAH WARNA DUNIA DEWASA KELAK
BILA DUNIA ANAK TERLUMURI DUNIA DEWASA YANG KELABU
BILA DUNIA ANAK TERPAPAR DUNIA DEWASA YANG KEJAM
BILA DUNIA ANAK TERNODAI DUNIA DEWASA YANG PICIK
KELAK WARNA DUNIANYA AKAN TERUS SURAM

*****

TANGIS ANAK

TANGIS ANAK BUKAN SEKEDAR JERITAN
TANGIS ANAK ADALAH KETIDAK BERDAYAAN JIWA MENGUNGKAPKAN DAHAGA
ADALAH KETIDAKMAMPUAN RAGA MENGGAPAI ASA
ADALAH KETIDAKBISAAN TUBUH MENGEKSPRESIKAN RASA

TANGIS ANAK BUKAN SEKEDAR KEBISINGAN
JANGAN DISIKAPI KESAL, KETIKA LETIH MENDERA
JANGAN DIANGGAP BEBAN, KETIKA PELUH BERCUCURAN
JANGAN DIRESPON AMARAH, KETIKA EMOSI MELANDA
JANGAN BIARKAN, TANGIS ANAK ADALAH SAATNYA KELEMBUTAN MENYENTUH JIWANYA

TANGIS ANAK BUKAN SEKEDAR KEBERISIKAN
TANGIS ANAK ADALAH KEPOLOSAN YANG TIDAK BISA DIPUNGKIRI
JANGAN ANGGAP HANYA KARENA BAU TANGAN
JANGAN ANGGAP HANYA BIANGNYA KECENGENGAN
JANGAN ANGGAP HANYA KARENA LATIHAN FISIK PARU-PARU
JANGAN BIARKAN, TANGIS ANAK ADALAH WAKTUNYA BELAIAN SAYANG MERAMBAH TUBUHNYA

TANGIS ANAK BUKAN SEKEDAR KEGADUHAN
BILA TANGIS ANAK MEMEKAKKAN GENDANG TELINGA
SEGERA TUNDA APAPUN GERAK YANG KAMU LAKUKAN
SEGERA HENTI APAPUN NIKMAT YANG KAMU ALAMI
SEGERA AKHIRI APAPUN KEPENTINGAN DUNIAWI YANG KAMU TUNAIKAN
JANGAN BIARKAN, TANGIS ANAK ADALAH WAKTUNYA PERHATIAN SEGERA DITUMPAHKAN

TANGIS ANAK BUKAN SEKEDAR LENGKINGAN
TANGIS ANAK ADALAH KEJUJURAN ALAMI YANG TIDAK BISA DIBOHONGI
SUARA ITU ADALAH SAATNYA DAHAGA HARUS DIBASAHI
DESAHAN ITU ADALAH WAKTUNYA DEKAPAN HANGAT DIBERIKAN
TERIAKAN ITU ADALAH SAATNYA KENYAMANAN HARUS TERPENUHI

TANGIS ANAK ADALAH HAK ANAK YANG PALING SEDERHANA
BILA KAMU PUNGKIRI,
BAGAIMANA MUNGKIN KAMU BISA MEMENUHI HAK ANAK LAINNYA
*****************************************************************************************

getsa.wordpress.com/2009/01/19/puisi-anak
Do’a
.
Ya Allah... Inilah hamba-Mu
yang meratap mengharap percikan cinta-Mu
Engkau tahu
betapa jelaga nista terus memburu
dosa dan dosa dan dosa
melagukan sonata hawa nafsu
kelu lidahku untuk mengaku di hadapan-Mu
malu jiwaku untuk menatap-Mu
Ya Allah...
Dalam gundah penuh ragu aku menghampiri-Mu
Menatap diriku sendiri yang selalu berpaling
Sesekali dosa-dosa kusesali
Tetapi berjuta kali kuulangi
Betapa daku harus menghadap-Mu
Sedang seluruh syaraf batinku hanyalah kisah kepalsuan
Sungguh tiada yang mendesakku, kecuali sebuah pengampunan-Mu

.

Aku Dimakamkan Hari Ini
.
Perlahan, tubuhku ditutup tanah,
perlahan, semua pergi meninggalkanku,
masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
sendiri, menunggu keputusan...
.
Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,
Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,
Apalah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,
rekan bisnis, atau orang-orang lain,
aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.
.
Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,
Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,
Tangan kananku menghibur mereka,
kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,
tetapi aku tetap sendiri, disini,
menunggu perhitungan...
.
Menyesal sudah tak mungkin,
Tobat tak lagi dianggap,
dan ma'af pun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri...
.
Tuhanku,
(entah dari mana kekuatan itu datang,
setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),
jika kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
beberapa hari saja...
.
Aku harus berkeliling, memohon ma'af pada mereka,
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku.
yang selama ini telah aku sakiti hati nya
yang selama ini telah aku bohongi
.
Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,
yang kukumpulkan dengan wajah gembira,
yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan, bahkan yang kutelan.
Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu
.
Dan Tuhan,
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta ,
teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,
maafkan aku ayah dan ibu ,
mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu
beri juga aku waktu,
untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
untuk sungguh sungguh beramal soleh ,
Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,
bersama mereka...
.
Begitu sesal diri ini
karena hari hari telah berlalu tanpa makna
penuh kesia-siaan
kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya
sama sekali mengapa ku sia sia saja ,
waktu hidup yg  hanya sekali itu
andai ku bisa putar ulang waktu itu...
.
Aku dimakamkan hari ini,
dan semua menjadi tak terma'afkan,
dan semua menjadi terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan...

.

Makna Sebuah Titipan
(WS Rendra)

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa :

sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti
matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih. 
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...

"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
*****************************************************************
Taman Bungaku
Tamanku taman indah permai
Kurindu dan kupandang slalu
Bunga pujaan hatiku
Kagum tiada jemu
Burung berkicau riang hinggap
Di dahan-dahan sambil menari senang
Alangkah indahnya tamanku
Kusiram dengan tekun selalu
85. Awan
Kulihat awan seputih bunga melati
Kesana kemari dilangit luas
Andai saja aku bisa menggapainya
Agar aku bisa melihatmu
Akan kuraih bila aku dapat
Akankah aku bisa menggapainya
Aku akan berusaha sekuat mungkin
Untukmu Guru Bangsa
Guru…….
Engakulah pengajar kami
Engkau ajarkan ilmumu untuk kami
Tiada bosan bosan engkau mengajar
Dengan penuh kesabaran
Guru ………..
Engkau mengajar dengan ikhlas
Engkaulah pendidik putra putri bangsa
Jasamu kepada kami sungguh besar
Hingga aku menjadi pandai dan pintar
90. Tugu
Tugu…….
Engkau menjadi saksi bisu
Kehidupan dulu
Yang belum kutahu
Tugu…..
Tetap kokoh melawan zaman
Yang penuh kekerasan
Jikalau malam datang
Ku ingin sepertimu
Tetap tegar melawan kokoh yang penuh liku
Lagu
Kulantunkan tembang rindu
Untukmu sahabatku
Di atas panggungmu
Kumenari dan bernyanyi dengan riang
Penuh damba dan senang di dalam hati
Dengan riangnya kau mengikutiku
Menyanyikan lagu
Indah, merdu dan sempurna
Itulah wujudmu wahai lagu
Guruku
Terima kasih guruku
Kau telah memberiku pendidikan
Sungguh senangnya aku
Mendapat ilmu karena pendidikanmu
Engkau adalah pahlawan tanpa tanda jasa
Aku ingin sepertimu
Walau kau keras kepadaku
Aku tau kau sangat sayang padaku
Terima kasih guruku tercinta
Sepertiga Akhir Malam
Kubuka pintu depan rumah
Kusaksikan langit begitu berkilauan
Dihiasi gugusan bintang
Hati pun nampak senang
Sungguh udara dan pikiran begitu lengang
Di sepertiga akhir malam
Kulawan dan kukalahkan udara dingin
Air wudlu pun menembus membasahi kulitku
Dalam sujudku kupanjatan doa kehadiratMu
Jadikanlah bangsa ini,
Bangsa yang aman ,tenteram
dan sejahtera
Bangsa yang menghidupkan
akhir sepertiga malam itu
5. Taman Surga
Saat tatapan mata memandang lepas
Wujud ciptaanNya di dunia
Berdegup hati ini berkata,
Sungguh mempesona tak ada duanya
Ku bayangkan dan kuresapi siapa gerangan
Membuat sama sedemikian rupa
Hati semakin berdegup seraya menangis
teringat dan terngiang, seperti apa
taman surga berada
Meratap dan menangis kembali hati ini
Mengingat janji Tuhan
Hanyalah mereka manusia pilihan
Yang jauh dari perbuatan nista dan angkara murka
Yang akan menjadikan mereka penghuni taman surga
kekal selamanya
Oh, Tuhan walau seribu jalan berliku
Berikanlah petunjukMu pada langkah kaki ini
Agar hambaMu termasuk ke dalam golongannya
6. Mentari
Hai mentari pagi
Hari ini kau datang tampak cerah sekali
Engkau datang tiap hari
Untuk sumber energi pribumi
Semua orang berlari pagi
Untuk menyehatkan diri
Tanpa kau, hai mentari
Di seluruh bumi ini
Akan mati tiada lagi
7. Pengemis-Pengemis Kecil
Ditengah persimpangan warna warni
Di banyak kerumunan besi berasap
Tersaksikan tangan tangan kecil menengadah
Meminta belas kasihan pada sang raja jalanan
Bertalu talu berada di bawah mentari
Menahan hausnya rintihan hati
Mengharap ada yang memberi
Tak pernah lusuh walau dilakukan setiap hari
Sungguh, membenakan hati dirimu itu terlukiskan
Namun siapa gerangan bisa berbuat
Tuk’membalikkan telapak tangan
tentang keberadaanmu itu berada



mouse